Pernah membeli terlalu banyak makanan, lalu sebagian terlupakan di kulkas hingga akhirnya harus dibuang? Atau mengambil makanan dalam porsi besar tetapi tidak menghabiskannya? Kebiasaan sederhana seperti ini merupakan bagian dari food waste atau limbah makanan.
Food waste bukan sekadar makanan yang masuk ke tempat sampah. Di balik makanan yang terbuang, terdapat sumber daya seperti air, energi, lahan, tenaga kerja, hingga biaya distribusi yang ikut terbuang. Karena itu, mengurangi food waste menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Apa Itu Food Waste?
Food waste adalah makanan yang sebenarnya masih dapat dikonsumsi tetapi akhirnya tidak dimanfaatkan dan menjadi limbah, baik karena tidak habis dikonsumsi, rusak, kedaluwarsa, maupun dibuang akibat keputusan konsumen, restoran, atau pengecer.
Food waste perlu dibedakan dari food loss. Food loss umumnya terjadi pada tahap awal rantai pasok, seperti produksi, pascapanen, penyimpanan, dan distribusi. Sementara itu, food waste lebih banyak berkaitan dengan tahap ritel, layanan makanan, hingga konsumsi.
FAO mencatat bahwa sekitar 13,2% makanan hilang setelah panen dan sebelum mencapai tahap ritel, sementara sekitar 19% lainnya terbuang di tingkat ritel, layanan makanan, dan rumah tangga.
Dengan demikian, food waste bukan hanya persoalan rumah tangga. Masalah ini juga berkaitan dengan bagaimana makanan diproduksi, disimpan, didistribusikan, dijual, dan dikonsumsi.
Seberapa Besar Food Waste di Indonesia?
Indonesia juga menghadapi persoalan limbah makanan dalam jumlah besar.
Menurut data 2024 yang dirangkum World Population Review berdasarkan UNEP Food Waste Index Report 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 14,73 juta ton food waste per tahun, atau sekitar 53 kg per kapita.
Angka tersebut menunjukkan bahwa food waste bukan masalah kecil. Penyebabnya pun beragam, mulai dari rantai pasok yang belum efisien, penyimpanan makanan yang kurang baik, hingga kebiasaan konsumen seperti membeli makanan secara berlebihan dan tidak menangani atau menyimpan makanan dengan tepat.
Di sisi lain, kajian Bappenas mengenai food loss and waste di Indonesia pada periode 2000–2019 memperkirakan timbulan food loss and food waste secara keseluruhan mencapai 23–48 juta ton per tahun atau 115–184 kg per kapita per tahun. Angka ini mencakup food loss dan food waste, sehingga tidak dapat disamakan langsung dengan data food waste 2024 dari UNEP.
Mengapa Food Waste Menjadi Masalah Lingkungan?
Makanan yang terbuang membawa dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar menambah volume sampah.
Untuk menghasilkan makanan, dibutuhkan berbagai sumber daya seperti lahan, air, energi, pupuk, tenaga kerja, kemasan, serta bahan bakar untuk transportasi. Ketika makanan tersebut tidak dikonsumsi, seluruh sumber daya yang digunakan sepanjang proses tersebut ikut menjadi tidak termanfaatkan secara optimal.
Food waste juga berkaitan dengan perubahan iklim. FAO dan UNEP memperkirakan food loss and waste berkontribusi sekitar 8–10% terhadap emisi gas rumah kaca global.
Ketika makanan yang mudah terurai dibuang dan kemudian membusuk dalam kondisi minim oksigen, proses tersebut dapat menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan tinggi.
Karena itu, mengurangi sampah makanan bukan hanya tentang menjaga makanan agar tidak terbuang, tetapi juga tentang menghemat sumber daya dan mengurangi dampak lingkungan dari sistem pangan.
Contoh-Contoh Food Waste dalam Kehidupan Sehari-hari
Food waste dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari, bahkan tanpa kita sadari.
Beberapa contohnya antara lain:
- Membeli sayur atau buah terlalu banyak hingga membusuk sebelum dikonsumsi.
- Memasak makanan dalam jumlah berlebihan dan tidak menghabiskannya.
- Membuang makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi karena salah memahami tanggal pada kemasan.
- Mengambil makanan dalam porsi terlalu besar di restoran atau acara.
- Menyimpan makanan tanpa memperhatikan suhu dan cara penyimpanan yang tepat.
- Membeli makanan karena promo atau diskon, tetapi tidak sempat mengonsumsinya.
- Membuang bagian makanan yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.
Hal-hal tersebut terlihat sederhana jika dilakukan sekali. Namun, apabila terjadi berulang kali dalam jutaan rumah tangga dan bisnis makanan, jumlahnya dapat menjadi sangat besar.
Apa Dampak Food Waste?
Food waste memiliki dampak yang saling berkaitan, mulai dari lingkungan hingga ekonomi dan sosial.
- Dampak lingkungan
Makanan yang terbuang berarti sumber daya untuk memproduksinya juga terbuang. Lahan, air, energi, pupuk, dan bahan bakar telah digunakan, tetapi makanan tersebut tidak memberikan manfaat sebagaimana mestinya. Food waste juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.
- Dampak ekonomi
Membuang makanan berarti membuang uang yang telah dikeluarkan untuk membeli atau memproduksinya. Pada skala yang lebih besar, kehilangan makanan juga dapat menimbulkan kerugian sepanjang rantai pasok.
Di Indonesia, kajian Bappenas memperkirakan kerugian ekonomi akibat food loss and waste pada periode 2000–2019 mencapai sekitar Rp213–551 triliun per tahun.
- Dampak sosial
Di tengah persoalan ketahanan pangan, makanan yang terbuang menjadi ironi. Mengurangi food waste dapat membantu meningkatkan efisiensi sistem pangan sehingga sumber daya pangan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Bagaimana Cara Mengurangi Food Waste?
Mengurangi food waste tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Kebiasaan sederhana di rumah maupun tempat kerja dapat memberikan dampak apabila dilakukan secara konsisten.
- Rencanakan makanan sebelum berbelanja
Buat daftar belanja berdasarkan kebutuhan dan rencana menu. Hindari membeli makanan hanya karena sedang promo apabila belum mengetahui kapan makanan tersebut akan dikonsumsi.
- Perhatikan cara penyimpanan
Simpan makanan sesuai karakteristiknya. Pisahkan makanan yang mudah rusak dan gunakan wadah tertutup untuk membantu menjaga kualitas makanan lebih lama.
- Terapkan prinsip “first in, first out”
Gunakan makanan yang dibeli lebih dahulu sebelum membuka atau membeli stok baru. Cara sederhana ini membantu mencegah makanan terlupakan di bagian belakang kulkas atau lemari penyimpanan.
- Ambil makanan secukupnya
Ketika makan di rumah, restoran, kantin, maupun acara, ambil porsi yang sesuai kebutuhan. Jika masih lapar, makanan dapat ditambah kemudian.
- Manfaatkan kembali makanan yang masih layak
Sisa makanan yang masih aman dikonsumsi dapat diolah menjadi menu baru. Misalnya, nasi sisa dapat diolah menjadi nasi goreng, sedangkan sayuran dapat digunakan sebagai bahan sup atau tumisan.
- Jangan langsung membuang makanan yang bentuknya kurang sempurna
Buah dan sayuran dengan bentuk atau ukuran yang tidak ideal belum tentu memiliki kualitas yang buruk. Selama masih aman dan layak dikonsumsi, makanan tersebut tetap dapat dimanfaatkan.
- Jika tidak dapat dicegah, kelola dengan tepat
Upaya terbaik adalah mencegah makanan menjadi limbah sejak awal. Namun, apabila makanan memang sudah tidak dapat dikonsumsi, pengelolaan seperti pengomposan dapat menjadi alternatif dibandingkan langsung membuangnya ke tempat pembuangan akhir. EPA juga menempatkan pencegahan food waste sebagai pilihan utama sebelum pengelolaan atau pembuangan.
Food Waste dan Konsumsi Berkelanjutan
Mengurangi food waste merupakan bagian dari upaya menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Hal ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 12.3, yang menargetkan pengurangan separuh food waste di tingkat ritel dan konsumen serta pengurangan food loss sepanjang rantai produksi dan pasokan pada 2030.
Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana: membeli sesuai kebutuhan, menyimpan makanan dengan benar, menghabiskan makanan yang sudah dibeli, dan mengelola sisa makanan secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, mengurangi food waste bukan berarti harus menjadi sempurna. Yang penting adalah mengurangi makanan yang terbuang sedikit demi sedikit dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bijak.
Saatnya Kurangi Food Waste dari Sekarang
Food waste adalah persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap makanan yang berhasil kita selamatkan dari tempat sampah berarti ada sumber daya, energi, dan biaya yang tidak terbuang sia-sia.
Mulai dari hal sederhana: beli secukupnya, simpan dengan tepat, habiskan makanan, dan kelola sisa makanan secara bertanggung jawab.
Bagi perusahaan, industri makanan, maupun pelaku usaha, pengelolaan limbah makanan juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun praktik lingkungan yang lebih berkelanjutan. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari perubahan menuju sistem konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.
Referensi
1. World Population Review. Food Waste by Country. Data food waste 2024 berdasarkan UNEP Food Waste Index Report 2024. World Population Review – Food Waste by Country
2. United Nations Environment Programme (UNEP). Food Waste Index Report 2024.
3. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Food Loss and Waste.
4. United Nations Environment Programme (UNEP). Food Loss and Waste. (UNEP – UN Environment Programme)
5. Kementerian PPN/Bappenas. Roadmap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) 2023–2030. (SDGs Bappenas)
6. U.S. Environmental Protection Agency (EPA). Preventing Wasted Food at Home. (US EPA)